Oleh: Bung Oman
Cerita ini hanya fiktif belaka. Jika ada kesamaan nama, tempat, atau mengenai apapun, penulis mohon maaf. Karena itu memang disengaja. (Biar Tahu kalau ada kesaman)
Di tengah kekalutan saya berjalan di tengah derasnya Hujan, Tanpa tersadar oleh saya baju saya basah kuyub. Tidak terasa memang ntah apa yang tubuh saya rasakan kala itu, ntah dalam kondisi Zahir saya seperti apa saat diterpa derasnya hujan malam hari itu, saya tidak bisa merasakannya.
“Payung mas?” tawar salah seorang pemuda yang kebetulan berjalan menyusul di belakang saya dengan menjunjung satu payung hitam berukuran jumbo. Mungkin rasa keperhatinan dia saat melihat saya menggigil kedinginan. Entah siapa yang memberi tahu dia kalau saya sedang kedinginan. “Mpun mas, matur suwon, wonten nopo-nopo”, dengan lembut saya menolak tawarannya karena memang saya tidak merasa kedinginan sedikitpun, tapi justru sebaliknya, saya kepanasan meski berjalan di tengah terpaan hujan. Akan tetapi pemuda itu memaksa saya untuk sama-sama berjalan di bawah payungnya, terpaksa saya harus menerimanya.
Berjalan berjejeran membuat saya canggung untuk memulai suatu pembicaraan, hingga akhir pemuda tersebut yang harus memulai suatu pembicaraan.
“Dari mana mas” tanyanya, “ini mas dari pertigaan mau ke kos, masnya mau kemana?” jawab saya sekaligus menimpal pertanyaan balik. “ini mas , mau ke lapangan parkir” jawabnya.
Sebenarnya saya sudah tahu kalau pemuda itu mau ke lapangan parkir, saya sudah sangat sering melihatnya saat dia kerja dengan kostum parkirnya yang begitu khas “Warna Coklat Muda” dengan variasi dua saku di bagian depan kostum itu, serta sebuah tulisan dengan gaya font Time New Roman pada bagian punggung kostum “JP” yang artinya “ Juru Parkir”. Bukan Julia Peres.
Melihat Kostum Parkir pemuda itu saya terbersit rasa penasaran, hingga tak tahan akhirnya pun saya bertanya “Mas, bajunya lumayan bagus, seperti baju salah seorang teman mahasiswa saya yang sekarang duduk di semester 6”. Memang pernah sewaktu-waktu, saya sempat iseng-iseng buka akun instagram dan melihat-lihat postingan teman-teman mahasiswa di instagramnya yang kebetulan mengenai kostum yang relatif sama dengan kostum yang pemuda juru parkir kenakan saat itu. “Ah apaan sih mas, orang saya Cuma di kasih majikan saya kok”, jawab pemuda itu dengan nada sedikit tersenyum, lebih penasaran, saya coba memancing pemuda itu agar menjelaskan bahan baju yang ia kenakan, “ eh nggak mas, emang bagus, bahannya aja lentur tapi keras” saya coba menyangga jawaban pemuda itu. Tidak tahu apa yang membuat pemuda itu ingin sekali berbicara banyak mengenai kekurangan dan kelebihan baju yang ia kenakan, mulai dari warnanya yang kece, modelnya yang so cool, kantong depannya yang berfungsi menyimpan alat-alat apapun seperti kantong Dora Emon yang mampu menyimpan semua alat yang dibutuhkan oleh Tuan Nobita, bahan baju yang terbuat dari serat karbon, bahkan ia sempat menceritakan bahwa baju yang ia pakai saat ini merupakan Baju Anti Peluru”. Mendengar penjelasan itu saya berdecak kagum”waaaaawwww”. Di tengah kegauman saya terhadap baju itu, tanpa disengaja saya melihat ada sesuatu yang menempel pada kostum itu, warna hitam, mirip suatu tombol, yang bejumlah dua keping terletak pada punda bagian dalam dan dekat dengan bagian kerah, tidak kuat menahan rasa penasaran, saya pun menanyakan apa itu sebenarnya “permisi mas, ini fungsinya apa ya mas?”, pemuda itu menimpli pertanyaan saya dengan nada serius disertai tawa “oh ini tombol mas, ini kalai dipencet bisa keluar payung”. Saya pun terpaksa harus menahan rasa tawa saya setelah mendengar jawaban pemuda itu. Aneh saja saya rasa, bagaimana mungkin sebuah payung bisa keluar dari dalam tombol yang ukurannya kurang lebih sebesar biji kancingan baju itu
Merasa tidak enak karena sudah dengan lancang membahas mengenai kostum kecenya itu, saya pun langsung mengalihkan pembicaraan dengan pura-pura bertanya mengenai tempat ia bertugas. “saya kalau pagi bertugas di pasar “A” mas, dan kalau sore malam bertugas di warung depan kampus” jawabnya sedikit belepotan. “oh,, kampus mana mas?” tanya saya melanjudkan. Saya tidak tahu nama kampusnya mas, itu loh yang pintu keluarnya cat warna Kuning itu loh” jawabnya tanggap. “Oh itu toh mas, makasih ya mas tumpangan payungnya, saya sudah nyampe, ini kos saya” tutur saya. “ oh iya mas, sama-sama” timpalnya. “ok mas, selamat bertugas” imbuh saya menyemangati pemuda itu.
***
Akhirnya perbincangan kami terpaksa kami selesaikan seketika itu juga. Dengan perasaan kacau saya coba memasuki kamar kost, menebak-nebak apa yang akan terjadi setelah saya membuka pintu kamar itu. Ternyaa tidak ada apa-apa di balik pintu, hanya ketakutan saya saja. Akhirnya saya merebahkan tubuh ke kasur. Terbersit pikiran tentang ke unikan kostum itu. Betapa baiknya sang majikan berkenan memberikan kostum super keren seperti itu. Padahal biaya masuk sebagai petugas parkir hanya sekedar Rp500.000-3.000.000 dan itu harus dilakukan per 6 bulan sekali sebagai perpanjangan untuk tetep menjadi karyawan.
Kiranya saya cukupkan sampai disini cerita yang berhasil saya abadikan dalam sebuah catatan ini. Semoga kostum juru parkir itu tidak ditertawakan oleh petugas lain
Bersambung........
*Nantikan cerita selanjudnya....
Bangkalan,
Senin, 16 januari 2018

Komentar
Posting Komentar