
Oleh: Bung Oman
1.KETUHANAN YANG MAHA ESA
2. KEMANUSIAAN YANG ADIL DAN BERADAB
3. PERSATUAN INDONESIA
4. KERAKYATAN YANG DIPIMPIN OLEH KHIDMAT KEBIJAKSANAAN DALAM PERMUSYAWARATAN PERWAKILAN
5. KEADILAN SOSIAL BAGI SELURUH RAKYAT INDONESIA
Begitulah kira-kira bunyi butir-butir dalam PANCASILA, gampang bukan? Ah gampanglah, masak udah gede masih belum apal pancasila, malu lah sama ponakan saya yang masih duduk di TK-A (hehehehe). Sebelum lanjud, saya harap para pembaca jangan tanya saya apal pancasila atau tidak ya, Pliss !!! ini aja saya nulis lima butir pancasila sambil merem kok, merem mellek maksudnya, hehehe
Bukan karena sombong atau apa, hanya saja saya merasakan hal yang berbeda saat menulisnya, NIKMAT-NIKMAT GELI. Hehehe penyakit lama bersemi kembali (plis Jaga diri dari pikiran jorok hehehe).
Apa kabar Via Vallen? Sudah dengar kabar-kah kalau penggemarmu di madura banyak yang kecewa karena njenengan ikut-ikutan dalam politik? Lagian sih ngapain ikut-ikut dalam politik ya?, disini saja sama rakyat kecil, jangan ikut-ikut politik, politik yang sekarang bukan untuk kemaslahatan tapi mesin perusak dan pembunuh (moral) bangsa kita, sudahlah temani rakyat indonesia goyang, ajak juga teman-temanmu yang paling seksi bahenol dan yang super cantik, biar mereka kembali ada ketertarikan dengan lawan jenisnya, toh dengan njenengan dan kawan-kawan njenengan tampil di panggung rakyat, njenengan ga terlalu melanggar pancasila, ya melanggar sih dikit, sila Pertama, paling Cuma 25 % hehehe. Tapi tak apalah demi kemaslahatan, dari pada njenengan ada di ruang politik disuruh RUU KUHP untuk melegalkan LGBT. Suadah berapa sila yang dilanggar itu. Eh bukan hanya melangar, tapi juga MENCORENG.
Yang jadi ketakutan saya ketika LGBT dilegalkan, bukan masalah saya takut terjerusmus dalam lingkaran LGBT, bukan. Insya Allah iman saya kuat kok. Hanya saja ketika hal itu dilegaklan akan berdampak pada berkurangnya peserta konser njenengan nanti, kecewa juga kan akhirnya, karena mereka (para kaum laki-laki) sudah tidak ada nafsu lagi melihat goyangan perempuan, tapi mereka malah lebih tertarik jika sesama kaum laki-laki yang tampil dipanggung untuk goyang, hehehe. Goyang dong.... !!!!
Hemmm.... sruput dulu , jangan serius !!! saya sedang tidak bercanda kok. Hanya saja saya mencoba menghibur diri saja, karena sudah jengah dengan sikap perilaku mereka para kaum birokrasi, dewan-dewan parlemen, Ekskutif, Yudikatif, dan juga Legislatif serta jajarannya dalam mengeluarkan suatu kebijakan. Huh,, sungguh pemerdayaan SDM yang sangat dahsyat, ... andai saya jadi Priseden,, niscaya akan saya lebih optimalkan lagi, terlebih SDM keagamaan, bukan untuk disuruh ceramah, karena saya tahu bang Ifrit tidak akan lari dengan hanya sekedar ceramah keagamaan, tapi akan lebih menggalakkan mereka (kaum agamawan) pada bagian Rukyah-nya. Insya-Allah mereka (Ifrit and the Followers) akan lari kalang kabut seperti dikejar nenek gayung hehehe (masak setan takut setan).
***
Sebelumnya mohon maaf karena sudah jauh meleset dari judul. Ya begitulah saya, sudah beberapa kali menulis masih saja mengulang kesalahan yang sama. Jika teman-teman pembaca, mahasiswa, pemuda desa/kota, para PNS, semuanya deh jika berkenan, maka maafkanlah. Anggota dewan saja berkali-kali berbuat kesahalan kalian maafkan, masak saya nggak dimaafkan. Jangan mentang-mentang saya tidak ada uangnya maka kalian enggan untuk memaafkan saya. TUHAN saja maha pemaaf kok meski tanpa uang sogok. Hehehehe.
Apa kabar idealisme? Bagaimana liburanmu. Ayolah sekali-kali tengok keadaan bangsa yang carut-marut ini. Pancasila sudah tidak lagi jadi pedoman, bahkan kaum munafikin menganggap bahwa pancasila sudah tidak relevan lagi, hingga mereka enggan lagi untuk menganggapnya sebagai dasar negara kita berpijak.
“Jika memang seperti itu, lantas dimana ketidak relevanan “Ketuhanan yang Maha Esa” coba?”(itu pertanyaan retorik bung Jimmy kemaren)*
Tidak mudah memang untuk mempertahankan suatu ideologi besar suatu bangsa. Karena semakin bernilai sesuatu yang kita genggam maka semakin gencar usaha musuh untuk membuat sesuatu itu lepas dari tangan kita.
Bukankah usaha untuk mempertahankan pancasila sudah dilakukan sejak dulu, yang disebut dengan hari kesaktian pancasila pada satu Oktober 19##, (hehehe lupa saya). Ya meskipun sebagian sejarawan menganggap itu sebuah cara Soeharto untuk mengkudeta pemerintahan Soekarno*(tempo khusu edisi Soeharto). Pun juga satu tahun yang lalu sudah dibentuk dewan pendidikan pancasila yang diketuai oleh mantan presiden Indonesia ke-5 , Megawati Soekarno Putri. Ya meskipun para aktivis kampus hal itu dianggap suatu wacana perpolitikan partai Banteng untuk tetap melenggangkan kekuasaannya, dan memang tidak ada kelanjutan hingga sekarang. Setidaknya mereka sudah berupaya untuk peduli terhadap Pancasila,meski hanya pura-pura dari pada hanya duduk manis di warung kopi, duduk begitu khidmat, bersenda gurau tanpa ada kejelasan, berteriak “MERDEKA” hingga membuat risih pemilik warung, sedang mereka lebih memilih berjuang secara apatis (No Money-No Honey), hanya melakukan 3M (Melihat-Mengkaji-Membiarkan).
Oh iya, apa kabar juga Pelangi¹), kenapa tidak muncul-muncul, bukankah akhir-akhir ini cuaca sudah mulai redup-redup grimis? Cobalah muncul, goreslah langit Indonesia yang sudah mulai dipenuhi awan hitam itu dengan pesona corak warna indahmu. Tahu-kah kalian wahai para pelangi? Di jakarta sedang dilakukan Rapat dewan untuk melakukan RUU KUHP dan berupaya melegalan LGBT, coba kau tengok juga langit papua, tepatnya di kabupaten Asmat, puluhan Anak-anak mati dan sekarat akibat gizi buruk, coba lihat juga berita lokal, banyak tikus-tikus sawah berkeliaran di kantor parlemen, memakan hasil panen dan meminum perasan keringat petani kita. Dan masih banyak lagi kasus-kasus yang yang terjadi di langit Indonesia ini, you know?
Ayo lah, jangan saat ada pesta saja kalian berani menampakkan warna. Lagian pesta sudah berakhir kok. Oh mungkin kalian masih ngantuk akibat pesta kemaren? Apa jangan-jangan kalian masih ragu untuk bangun, atau memang pura-pura tidak mendengar burung garuda menjerit kesakitan, karena masih menganggap burung itu sudah sakti hingga kalian merasa sudah tidak perlu lagi untuk membelanya, atau jangan-jangan setelah membaca ini kalian akan mengeluarkan statemen “burung garuda tidak perlu dibela”? eih,,, apatais sekali kau???. Memangnya kau kira burung garuda itu Mak Lampir yang bisa bela diri dan punya ilmu kanuragan?
Setega itu kah kalian membiarkan sang burung garuda terkapar sekarat. Boleh saya ingin tahu dimana kalian sembunyikan rasa malu kalian saat ini? Bukan-kah kalian selama ini sudah berlindung di balik sayapnya yang kokoh itu dan disaat sekarat seperti ini kalian malah memalingkan wajah kalian darinya. Toh itu kan burung peliharaan kita bersama, masak hanya segelintir saja yang perduli, toh juga yang perduli sekarang jadi ikut-ikutan tidak perduli karena melihat ketidak perdulian kalian.
***
Masya Allah , baru ingat kalau pelangi hanya bisa muncul saat hujan sudah mulai reda dan ketika ada sedikit sinar keemas-emasan dari matahari, itu pun terpaksa harus dibelotkan dulu baru bisa muncul pelangi.
Oh satu lagi, pelangi yang sekarang kan juga berbeda dengan pelangi tempo doeloe. Iya beda. Pelangi tempo doeloe tidak perlu ingin dilihat untuk muncul, sedangkan pelangi jaman sekarang harus menunggu ribuan orang datang dulu baru akan muncul.
Iya kan? Iya aja daahh......
Monggo sruput dulu kopinya....!!!???
Pasuruan, 28 januari 2018
Komentar
Posting Komentar