Benarkah Mahasiswa Sekutu Tuhan?
Semua orang tahu nikmatnya sekepulan nikotin yang dihasilkan dari
satu batang kretek dengan secuil bara api di ujungnya nya, ditambah dengan
seruputan paduan antara air panas, bubuk kopi hitam dan gula pasir secukupnya,
yang di padu dalam satu cangkir cantik.
Namun kemikmatan itu hanya bisa dirasakan oleh orang yang memang
benar-benar pecandunya. Yang tidak terbiasa dengann itu, tidak memaksa, cukup
dengan air putih saja, atau teh, atau apapun itu asal jangan miras, karena
dalam ajaran kitab manapun hal itu dilarang. Pancasila-pun demikian
(WKWKWKWKWK) -, Intermezo saja.
Jika anda tersinggung baca ini, saran saya; Ambil Wudlu’ dan baca
istighfar. Lalu jika anda berkenan, baca lagi tulisan ini, dan pastikan anda
sudah mempunyai iman yang kuat.
Jika ada seribu orang tidak suka dangdut, salah satunya pasti ada
saya, jika ada seratus, lima puluh, sepuluh, bahkan satu orang pun itu pasti
saya orangnya. Karena menurut saya dari pada denger musik dangdut, mending
dengerin shalawatan, Mutsabaqoh, Tadarusan. sedangkan dangdut menurut saya
sangat UNFAIDAH dan itu merupakan bagian dari kemunafikan saya. Buktinya,
akhir-akhir ini saya malah juga tertarik pada musik dangdut, terlebih ketika
pelantunnya seorang Artis Muda yang sedang naik daun saat ini, (katanya sih)
Via Vallen.
Bagi penikmat baru
lagu dangdut, saya kadang merasa aneh ketika mendengar lantunan nada yang
dibawakan Via Vallen. Jangankan bertatap mata, foto nya saja saya tak tahu
seperti apa, tapi saya rasa saya telah jatuh cinta pada (suaranya) Via Vallen.
Sempat penasaran memang, seperti apa sosok dan perilaku yang sesungguhnya.
Sampai-sampai seya sempat membayangkan seorang Via Vallen sedang berada di
balik kelambu tempat saya sholat, dengan nada yang lamban nan sayu serta alunan
pola yang tersayat-sayat, membaca Surah Ar-Rahman dari ayat pertama sampai
selesai dengan suara emasnya, suara yang persis ketika ia melantunkann lagu
yang berjudul “SAYANG” di atas panggung OM SERA.
Ah rasanya
nikmat-nikmat geli saya membayangkan itu. Walaupun itu memang terjadi, tidak
mungkin juga ia lakukan ditempat biasa saya sholat. Kalaupun ia benar-benar
membaca surah Ar_Rahman paling juga ia akan jual hasil rekamannya untuk ia
tukar dengan kulit pisang dari pada membeli tunas pisangnya untuk ia tanam
Tahun ini saya hanya isi liburan dengan kegiatan peuh di rumah,
melupakan segala kemunafikan yang telah saya nikmati selama satu tahun terakhir
di kampus saya tercinta, kampus UTM.
Perasaan jengah karena selalu mendengar dakwah-dakwah mereka,
wejengan, sastra, puisi, dan lain-lain yang saya rasa terlalu sangat dipaksakan.
Pernah saya mendapat kritikan akan tulisan saya di akun FB saya,
tulisan yang terlalu kasar, tajam dan terlalu keras. Namun kritikan tersebut
bisa saya alih fungsikan sebagai bahan bakar tulisan berikutnya.
keindahan bahasa dalam penulisan, sastra dan lain sebagainya cenderung tidak saya pakai dalam gaya tulisan saya, karena saya menulis bukan untuk dijual, ngapain juga diperindah. Aneh saja ketika ada orang yang rela menukar idealisme-nya dengan segelintir Rupiah. Dan yang lebih aneh lagi orang yang membelinya (Hayooo,, siapa sekarang sedang yang berpolitik jual beli daging itik (eh daging sapi)....??? tapi tak apa, saya tak sakit hati kok. Karena bagi saya ketika anda berkhianat itu sudah biasa, yang luar biasa ketika anda tidak khianat terhadap saya,, hehehehehe, dan kalau boleh saya ingatkan, itu IDEALISME men,, bukan gorengan, juga bukan bungkusan filter, karena seorang produsen tidak menjual IDE-nya dengan harga eceran. Bayangkan saja ketika pemilik perusahaan rokok saja menjual resep rokok sama dengan harga perbungkus rokoknya ke-setiap orang (WKWKWKWKWK ,, gile lu ndro’)
***
Peran Mahasiswa memang
mulai terasa pasca tragedi runtuhnya kekuasaan Rezim tahun 1998. Hingga sampai
saat ini, dengan adanya sejaralhh yang telah Mahasiswa (era 1998an) goreskan
membuat para penerus gelar tersebut berbusung dada. Sehingga setiap ada
pertanyaan “siapa ditataran masyarakat (Indonesia) yang paling ditakuti?”,
jawaban mereka pasti “KAMI”, pertanyaan berikutnya menyusul “Loh kenapa kok
kalian?” jawabnya pasti “Kan saya Mahasiswa”. Jawabnya puas sambil terbawa
suara bahak tawanya.
Dari dialog tersebut saya mencoba menarik kesimpulan yang konyol “
Jika Hakim Wakil Tuhan di dunia, maka Mahasiswa adalah sekutu Tuhan di dunia”.
Percaya tidak percaya terserah anda, yang pasti anda juga mengamini dengan
adanya gelar “MAHAsiswa” yang merupakan suatu subjek selain Tuhan, yang memakai
gelar “MAHA” di depan namanya. Oleh karena itu, saya tidak pernah mengakui saya
sebagai Mahasiswa Hukum, tapi, saya Anak Hukum atau Pelajar Hukum. hehehehe
Ke-Idealis-an
mahasiswa doeloe memang patut diacungi jempol, mereka mampu menurunkan orang
setingkat presiden dari Altar kekuasaannya. Bahkan mereka juga berhasil menina-bobokkan
para penerusnya (Mahasiswa Jaman Now), jangankan presiden, demo Toilet saja
masih lenggak lenggok dan selalu berada pada garda terdepan (ketika ada
pembagian uang beasiswa)
Ohhh ,,,, Via
Vallen, Suaramu bagai Emas 24 karat, sayang kalau hanya kau tukar dengan
se-KIJANG kulit Pisang (hehehehehe).
Cangkir dan bungkus filter sudah kosong, tulisanpun terpaksa saya
cukupkan. Maaf apabila anda kurang puas dengan materi stand up komedi saya
PASURUAN,
Selasa. 09 Januari 2018
***

Komentar
Posting Komentar