BUKU HARIAN Part1(Sebuah Cerpen Kisah Nyata-PKL Hi-Tech Mall Surabaya 2015)


“Tulisan ini sengaja aku buat,
agar suatu saat nanti kita tidak saling melupakan.
I Love You Beb”
        Begitulah bunyi potongan kalimat pembuka dari sebuah buku yang aku temukan di atas lemari kamar kostku seminggu yang lalu. Hemmm...Kondisi buku yang sangat memprihatinkan, usang, kusam, berdebu. Nampaknya sudah cukup lama buku itu ditinggalkan  pemiliknya.
        Suatu potongan kalimat yang begitu menyentuh untuk dijadikan sebuah pembukaan kisah cinta yang tertuang dalam lembaran buku itu. Ukuran dan gaya Font, serta pemilihan warna biru sebagai tinta penanya membuat siapapun yang membaca buku itu akan ikut merasakan, bahwa pemilik buku itu tengah larut dalam kesedihan karena akan berpisah dengan orang yang selama ini telah mengisi harinya. Membaca kalimat itu, aku juga seakan ikut terhanyut dalam situasi yang dialaminya. Perlahan aku buka lembar selanjudnya....
***


        
Dalam lembar kedua terdapat sepasang nama dari seorang perempuan, katakanlah namanya Fanny, dan si lelaki yang bernama Ronie, yang di pisahkan oleh gambar Love, tanggal awal mula pertemuan mereka sampai akhirnya berpisah, , serta identitas si pemilik buku itu. Rupa-rupanya buku itu ditulis oleh Fanny
Tidak sulit untuk menebak pemilik buku itu, karena pada bagian pojok halaman terdapat tulisan kecil yang menyebutkan identitasnya.
Tapi kenapa buku ini ada di atas lemari kostku? Bukankah itu kost-an cowok? (gumamku dalam hati)
        Setelah berpikir sejenak tentang bagaimana buku itu bisa sampai ke kost-an ini dulu, perlahan tanganku mulai menepis selembar halaman tanpa menghiraukan pertanyaan yang dari tadi aku buat sendiri.
        Lembar demi lembar dalam buku itu telah usai aku baca.
Hemmm... benar-benar kisah yang begitu panjang, dengan waktu yang sangat singkat. Hanya sebulan mereka bersama, dari awal mereka saling berpapasan hingga mereka menjalin suatu hubungan, ntah hubungan apa aku juga tidak tahu, sebab dalam buku tersebut tidak dijelaskan secara eksplisit mengenai hubungan mereka entah itu hanya sebatas pertemanan, persahabatan atau sepasang kekasih-kah. Aku juga tidak tahu.  Mungkin hanya Tuhan dan mereka berdua yang tahu hubungan mereka, atau mungkin mereka berdua juga tidak tahu tentang hubungan yang mereka sendiri tengah jalani selama satu bulan itu.
        Dalam buku itu tertulis, 29 Januari 2015 pertama kali mereka bertemu di Hi-Tech Mall. Pertemuan yang tak disengaja, ketika mereka sedang melaksanakan tugas dari Sekolah Menengah Kejuruan (SMK), Tugas Praktek Kerja Lapangan (PKL) di sebuah tempat, yang terletak di Area Surabaya  beralamat Jl.Kusuma Bangsa, tepat di seberang jalan yang berhadapan dengan Taman Makam Pahlawan Surabaya
        Pada hari itu, ketika si lelaki menemui salah seorang temannya di tempat kerja, yang kebetulan tempatnya tidak jauh dari tempat kerja perempuan itu, tanpa disengaja mata mereka bertatapan. Sifat cuwek serta tak acuh yang dimiliki keduanya, maka tatapan itu tidak memberikan arti apa-apa untuk mereka. Hanya tatapan kosong sebagai orang asing yang tak sama saling kenal
        Waktu semakin berjalan dan dengan seringnya mereka bertatapan, rupa-rupanya membuat Fanny penasaran terhadap Ronie, hingga akhirnya ia mencurahkan isi hatinya tentang lelaki itu ke salah satu sahabatnya yang kebetulan juga teman Ronie. Akhirnya tanpa konfirmasi dari siapapun, suatu ketika sahabat Fanny menyampaikan salam yang seolah-olah salam itu memang darinya yang ditujukan kepada Ronie. Tapi Fanny tidak ada rasa marah sedikitpun pada sahabatnya karena telah menyampaikan salam itu. Pada saat itulah keduanya memutuskan untuk saling mengenal, dan merencanakan sebuah pertemuan pertamanya pada tanggal 5 Februari 2015 di depan halaman Hi-Tech Mall, Surabaya.
***
        Aku sepenuhnya tidak mengetahui secara pasti apa yang menyebabkan mereka hingga memberanikan diri untuk saling mengenel lebih jauh. Mungkin timbul dari setiap individu mereka berdua untuk saling mencari tahu karakter masing masing. Tidak ada hari-hari yang mereka lewati tanpa menegur sapa, bahkan nyaris setiap hari juga mereka melangsungkan pertemuan, karena memang, entah itu secara kebetulan atau memang sudah tercatat dalam suatu kitab agung yang Tuhan tulis di atas Lauhul Mahfudz, ya kita bisa menyebutkan itu takdir, mereka dipertemukan dalam dunia yang sama, moment yang sama dan tempat kerja yang sama, di Hi-Tech Mall Surabaya. Yah,, di tempat itu mereka dipertemukan dan sempat menjalin suatu hubungan, entah hubungan apapun itu. Dalam buku itu dijelaskan mereka hanya menjalin hubungan dan tidak dijelaskan secara khusus hubungan apa yang mereka jalani, ya intinya mereka sama-sama saling membahagiakan.
        “Surabaya adalah kota seribu kenangan” begitu lah orang-orang biasa memuji nama kota itu, dan mungkin hal itu juga menjadi sebutan mereka saat itu atau munkin juga sampai sekarang mereka menganggap tempat itu sebagai kota kenangan, kenangan awal pertemuan hingga mereka berpisah. Sebenarnya kota itu sangat jauh jika kita katakan sebagai tempat yang romantis. Tidak tahu lah apa yang ada dalam pikiran orang-orang mengenai kota itu, terlebih lagi bagi pasangan muda-mudi itu, mereka sangat antusias melukiskan kenangannya dalam kota itu di sebuah buku kecil ini. Tawa, tangis, canda, marah, susah, senang, semuanya tertuang dalam buku itu, termasuk kejadian saat mereka dilabrak satpam, hanya karena mereka kepergok duduk berduaan di sebuah tangga yang berada di pelataran depan Hi-Tech Mall.
        Hi-Tech Mall memang satu-satunya tempat bagi mereka yang sedang menerima tugas PKL dari sek.olah kejuruan mereka, terkhusus jurusan Teknik Komputer Jaringan(TKJ).
        Waktu terus berjalan, sementara pasangan itu semakin akrab dengan gaya hubungan mereka sendiri. Entah seperti apa gaya hubungan mereka.
Pernah suatu sasat Fanny mengeluh dalam buku itu perihal sikap Ronie yang terlalu cuwek, dingin dan semacamnya, tapi lama-lama ia juga asyik dan sering memuji rupa Fanny dengan sebutan bahasa Madura dengan kata “JUBEK”, padahal itu sebutan kata “JELEK” jika diartikan dalam bahasa Indonesia. Mendengar pujian itu Fanny awalnya senyum-senyum saja, ia kira kata itu sebutan untuk sang bidadari dan segala macamnya, padahal bukan, dan ketika ia tahu arti kata itu, Fanny dengan gaya seksinya menunjukkan sikap juteknya terhadap Ronie, ya Ronie mengetahui sih kalau Fanny hanya pura-pura. Tidak mungkin juga perempuan secantik itu tersinggung saat Ronie memuji ia dengan sebutan Jubek/Jelek.
***
Pada pertengahan halaman buku itu, terlihat pasangan itu nampaknya sudah mulai semakin ada kedekatan dalam hubungannya, ntah itu pertemanan atau apa-pun itu, yang pasti keduanya bisa saling menerima kelebihan dan kekurangan masing-masing. Pada bagian ini juga terdapat cerita-cerita indah hubungan mereka, bahkan setiap hari pun mereka rela berangkat pagi demi untuk bertemu sebelum jam kerja dimulai. Berjalan menyusuri lorong-lorong toko elektronik di Hi-Tech mall serta sesekali mereka mengabadikan moment dengan mengambil beberapa gambar kebersamaan mereka. Sampai-sampai mereka tidak menyadari kalau waktu mereka untuk bersama hanya tinggal beberapa hari saja.
***
 “Hari-hari  telah kita lewati, aku sangat bahagia bisa mengenal dan bersamamu semenjak kita di sini. Tapi saat ini aku sedih karena sebentar lagi kita akan berpisah, tapi aku juga tidak bisa menyalahkan waktu, sebenernya aku ngga mau pisah sama kamu, aku sudah terlanjur nyaman sama kamu di sini.
Tapi mungkin ini hanya cobaan yang harus kita jalani.
semoga tahun-tahun setelah ini kita dipertemukan kembali.
Terimakasih ya,,,
Terimakasih buat waktunya, terimkasih cintanya, terimakasih sayangnya, terimakasih Jubeknya, pokoknya terimakasih buat semuanya semuanya.
Aku sayang kamu beb.
“Fanny sayang Ronie”
Surabaya, 25 Februari 2015 ”.

        Sungguh kalimat yang sempurna untuk sebuah ucapan selamat tinggal. Ku sendiri tidak bisa membayangkan bagaimana suasana hati dari keduanya, suasana hati Fanny saat menulis kalimat itu dan suasana hati Ronie setelah membacanya. Kalimat itu tertulis pada halaman terakhir, terletak pada sisa lembar ke-2  sebelum tulisan dalam buku itu Fanny akhiri dan hendak menuju lembar terakhir.
*Bersambung...


Komentar

Postingan populer dari blog ini

PELANGI DUA WARNA

Benarkah Mahasiswa Sekutu Tuhan?