Oleh: Pemuda
Marhaenis
Buku usang sudah
mulia saya bersihkan dan perlahan saya coba sedikit membaca ulasan sisa-sisa
sejarah kelam. Emmm... Menarik juga ya ternyata, daripada hanya duduk di balik
cangkir kopi dengan posisi kaki dilipat dengan kepala sedikit merunduk berebut para
Hero, tak lupa pula sedia charger dan menempatkan posisi badan 180°
dengan titik soket putih (Terminal Listrik). hehehe
Berbicara pancasila
sangatlah luas, tergantung pola kajian dan pendekatan kita darimana. Tapi kali
ini saya tidak akan berbicara lagi mengenai pancasila menurut pandangan Normatif,
C+ pada saat semester I, dan C di semester II membuat saya kapok berhadapan
dengan orang-orang aliran normatif, hehehe. Mereka cenderung lebih
mengedepankan Text dari pada Realita, padahal tidak semua yang terjadi sesuai
dengan keadaan yang tercantum dalam text-text itu, “Pelajaran tidak harus terdapat
di sekolah ataupun di kertas skripsi” *Bondan Prakoso.
***
Sedikit mengulas
tentang tulisan saya sebelumnya yang saya beri judul “PANCASILA HAMIL TUA”. Ada
yang bertanya dan mungkin juga setengah berpendapat mengenai jenis kelamin dari
pancasila, kenapa bisa hamil, dan bukannya pancasila tidak mempunyai alat
kelamin. Serta dia berusaha untuk meyakinkan bahwa “Jika Ibu pertiwi Hamil itu
wajar karena dia sudah tentu per-Empu-an” karena ada kata “ibu”. Lah terus
Pancasila dengan ibu pertiwi bedanya apa ya?? Kan sama-sama istilah. Darimana kita
tahu bahwa ibu pertiwi perempuan jadi wajar bila hamil, dan Pancasila tidak boleh untuk hamil. Apa mungkin karena namanya “PAK-NCASILA”
ya? Hehehe... aya-aya wae atuh... yo wes ,,, lets go...!!!
***
Hemat saya, ketika kita memutuskan sesuatu, janganlah hanya
memandang dari sisi normatifnya saja, karena apa? Ingat !!! Normatif hanyalah
rekayasa angan-angan manusia yang mencoba untuk diterapkan dalam suatu
perilaku, sehingga Normatif akan tidak berlaku jika tidak adanya sebuah
fenomena yang nantinya menyebabkan suatu pengertian yang rasional. Sampai sini
faham?, ok.. mari kita lanjudkan dengan menerapkan pada pancasila
Pancasila merupakan
suatu Norma Dasar (Normatif) dan sifatnya Irrasional, nah bagaimana kita dapat
me-rasionalkan? Simpel saja, benturkan dengan keadaan / sisi Empirisnya
(dibolak-balik juga tidak apa) , dengan apa? Yuk baca ulang sejarahnya (Babat
Tanah Hindia atau dari perbendaharaan lama atau yang lain lah yang berhubungan
dengan sejarah indonesia), sejarah timur tengah saja apal masask sejarah nenek
moyang kita sendiri tidak tau (Krisna Durrojatun:Film siapa di atas Presiden*).
Hehehehehe. Agar tidak asal apal pancasila yang sebagaimana tetangga saya sungging
singgung dalam tulisannya “Pancasila Masih Perawan”. Lagian aneh juga sih,
dalam tulisan itu tidak sepakat kalau pancasila berjenis kelamin perempuan,
tapi dia memberi judul tulisannya “Pancasila Masih Perawan”. Status perawan kan
hanya dimiliki oleh kaum perempuan. Wkwkwkwk.
Tetangga saya
pernah berkata dalam tulisannya bahwa pancasila memang benar-benar masih
perawan, memang benar selama ini sudah banyak yang mencoba menyetubuhi , tapi
gagal. Akan tetapi menurut saya itu bukan gagal, melainkan masih belum
beruntung untuk berhasil. Ibarat maling, ketangkap sebelum mencuri, tapi tidak
menutup kemungkinan suatu saat maling itu atau maling yang lain berhasil
menembus pagar bahkan berhasil menggondol beberapa barang berharga sang
pemilik.
Tidak menutup
kemungkinan juga pancasila, semakin banyak yang gagal menggagahi/menyetubuhi
semakin banyak pula yang ingin mengambil keperawanan pancasila, bahkan ada juga
yang berhasil, seperti kasus yang saya kemukakan sebelumnya. Putusan hakim pada
kasus pidana yang menimpa Ompu Linda atau Saulina Sitorus.
Sepertinya tetangga
saya sangat bijak dalam mengoreksi tulisan saya, hingga satu persatu dalam
tulisan saya dia berusaha mengupas, termasuk paragraf mengenai hakim sebagai Wakil
Tuhan. Hemm ...kenapa masih dibahas ya? Padahal kami berdua sudah sepakat bahwa
hakim tidak pantas menyandang titel sebagai wakil tuhan, dan yang lebih bijaksana
lagi jika dia mengkaji sila-sila selain sila satu yang dilanggar oleh hakim itu
sendiri yang termuat dalam pesan tersirat pada pertanyaan retorik yang saya
ajukan, “coba sebut pak hakim, berapa Sila yang sudah anda setubuhi?”
kalau ga salah seperti ini kalimatnya, atau mungkin harus saya sebutkan
bagian-bagain butir sila yang dilanggar oleh hakim tersebut? Ahh kalau begitu,
dimana menariknya, enak kalian dong ga pakek mikir. Wkwkwkw. Kalau saya boleh
meminjam bahasanya salah satu senior saya, “di dunia ini tidak ada yang
instan bro”:Cak Pra.
Pada kasus di
atas, saya hanya menarik sedikit kesimpulan bahwa hal tersebut merupakan bentuk
keberhasilan dalam menyetubuhi PANCASILA, buktinya, sampai sekarang apakah hakim
tersebut dikenakan pidana atau dalam bahasa gokilnya “Diciduk” karena hasil
karayanya yang berupa putusan, padahal kita sama-sama sudah melihat bahwa putusan
itu tidak sesuai dengan nilai-nilai yang terkandung dalam pancasila “Peri-kemanusiaan
dan Peri-keadilan”. Ok Sampai sini faham? Lets go again....
Sedikit merenung
akan lebih memudahkan kita dalam menerima sesuatu yang mungkin menurut kita
jauh dari kata benar, sebab kebenaran dalam ruang lingkup manusia hanya
bersifat relatif. Jangan salahkan se-ekor singa yang memakan kelinci, jangan
salahkan juga kelinci yang tidak berani melawan singa. Pembenaran terhadap diri
sendiri merupakan bentuk penghianatan kita atas nikmat yang Tuhan telah berikan
terhadap makhluk semesta. Terlebih lagi “Sendiko dawuh Senior”, nanti
ujung-ujungnya bilang “ya senior, kami kuduskan nama-mu”, hehehe janganlah,
sayangi masa muda-mu.
Termasuk pada
tulisan saya yang sebelumnya, yang memang sangat jauh dari kata benar, lebih-lebih
pada judul yang saat ini kalian baca “Pancasila Lahir Prematur”.
Lahirnya pancasila
prematur bukan lantaran saya berasumsi bahwa pancasila yang ada saat ini tidak
berlaku, atau akan mengubah pancasila yang ada sekarang. Justru karena Pancasila yang melahirkan prematur itu, peran (induk)pancasila
sangat dibutuhkan untuk menjadi pengayom bagi bayi pancasila(is) yang lahir
prematur itu. Diharap ia kelak akan bisa lebih menjaga induknya agar tidak ada
lagi yang berani menyetubuhi induknya.
Namun hal itu jauh
dari harapan, bayi pancasila yang prematur itu justru tidak seperti apa yang
diharapkan, ia lebih memilih memisahkan diri dan hidup sendiri kecuali dengan
Hero- legend pada game Mobile-nya. Tidak perduli lagi dengan induknya yang
telah melahirkandan mengayomi sejak ia kecil. Rupanya setelah sedikit dewasa ia
lebih membela Hero dari pada membela induk pancasila itu sendiri. Bahkan ia
beranggapan bahwa induknya tidak perlu dibela, karena dengan ia membela Hero-nya,
otomatis secara tidak langsung ia sudah membela induknya-,
*Wallahu A’lam bisshowab
Bangkalan, 07
Februari 2018
Komentar
Posting Komentar