Oleh: Pemuda
Marhaenis
Buku itu usang kalau tidak pernah terbaca, terlebih jika
perawatannya kurang intensiv, bukan jadi ilmu, jadi debu? Pasti. Pun sama
dengan ilmu. Kalau kita tidak pernah membaca, kapan kita akan jadi orang yang
berilmu? Dan bagaimana kita merawat ilmu biar tidak hanya jadi bahan hiasan? ,
ya tentunya dengan diamalkan, tidak hanya amalan Bhatiniyah saja, secara
lahiriya harus, wajib malah. (Cari sendiri deh sumbernya, males gua nyantumin
disini) hehehe. Kalau tidak salah ada di salah satu kitab, karangan Karya: (Al-Mukarrom) Syekh Az-Zarnuji.
Insya Allah ilmu kita tidak akan usang dan lapuk dimakan zaman.
Allaah ,,, Allaah....
Amit lor, mau
berbagi cerita sedikit lewat tulisan, karena saya tahu diri, saya hanya anak
petani kecil, yang bercocok tanam serta mencari rumput saat musim penghujan dan
mengembala ternak saat musim kemarau. Makanya saya beranikan menulis, sesuai
pesan guru besar saya dulu di pesantren: “Kalau kau bukan anak raja, maka
menulislah”. Hehehe, mudah-mudahan beliau selalu diberi kesehatan, sehingga
masih sanggup mengingat bahwa beliau sendiri pernah berpesan akan hal terhadap
saya sewaktu itu. Amiin !!!
***
Jika pada masa
menjelang dilengserkannya Presiden Soeharto oleh mahasiswa pada masa 1998-an
para sejarawan mengistilahkannya sebagai “Ibu Pertiwi Hamil Tua”. Karena
apa istilah itu dipakai pada masa itu? Saya pun tak tahu, hehehe. Mungkin
karena rezim pada saat itu telah diam-diam merampas keperawanan sang ibu
pertiwi, hingga puncaknya terjadi pada tahun 1998, ibu pertiwi telah
melahirkan.
Pembahasan kali
sebenarnya tidak jauh dari pemaparan yang saya gambarkan di atas, hanya saja
ada sedikit perbedaan pada objek yang dibahas. PANCASILA
Saya yakin, banyak
dari teman-teman pembaca yang hapal butir-butir dalam PANCASILA. Kalau misal
ada yang belum hapal, tuh di tulisan saya sebelumnya ada yang saya beri judul
“BENARKAH PANCASILA ITU SAKTI”, atau cari saja di mbah gugel, ada kok di situ.
Berbicara
pancasila, saya ingat beberapa potong lirik lagu dari Bang Iwan “Bangunlah
Putra-Putri Pertiwi” –
“Pancasila bukan rumus kode buntut
yang hanya berisi harapan
yang hanya berisi khayalan”
Mendengar itu saya kadang suka protes sama bang Iwan, “terus
pancasila itu apa? Kenapa bang iwan tidak coba menjelaskan dalam lagunya?”. Tapi
tidak pernah kesampaian karena saya tidak pernah diberi kesempatan untuk
bertatap mata dengan bang Iwan, sekedar bahas lima butir PANCASILA
Dalam diam saya
coba mengangan-angan sendiri apa itu pancasila?, seperti apa bentuknya?,
kira-kira dia mau tidak ya kalau saya setubuhi?, dan kalau seandainya mau,
seperti apa rasanya? Ayolah, jangan malu-malu, mereka-mereka saja engkau
relakan untuk menyetubuhimu, masak saya tidak diperbolehkan? Atau jangan-jangan
engkau tidak mau saya setubuhi lantaran saya tidak memiliki banyak rupiah untuk
membali keperawananmu?
***
Pertanyaan seperti
itu sebenarnya tidaklah pantas saya kemukakan, tapi mau apa lagi. Saya sudah
tidak tahan, dan saya rasa teman-teman juga tidak tahan, iya kan? Ngaku saja
lah!!! Toh dengan kalian ngaku, saya juga ga bakal marah. Saya sudah capek
ngawal pancasila, toh pancasila sudah tidak perawan lagi. Saya lihat dengan
mata kepala sendiri saat mereka rame-rame perkosa pancasila, iya mereka, para
petinggi-petinggi tanah air.
Di Sumatera sana sudah dengan sangat jelas, bagaimana yang katanya Wakil
Tuhan tidak bisa membedakan mana salah mana benar, padahal sudah jelas dalam
Al-qur’an “Tuhan maha mengetahui mana Haq mana Bathil” pun juga “Maha pengasih
lagi Maha Penyayang”, “Maha Adil” dan masih banyak lagi Maha-Maha lainnya yang
tidak bisa saya sebut di sini. Sedangkan seorang yang mengaku dirinya wakil
Tuhan, hingga, selain dengan panggilan “yang Mulia” maka ia tidak akan noleh
barang sedikitpun, ia tidak ada sedikitpun dari salah-satu sifat ketuhanan di
atas. Ya minimal ga pake kata “Maha” lah, cukup sifat tahu saja
misalnya. Biar ada pantasnya dikit disebut sebagai wakil Tuhan. Lagian permintaanmu
juga aneh sih pak hakim, kok minta disebut sebagai yang mulia wakil tuhan,
dalam sila satu pancasila kan sudah jelas “Ketuhanan Yang Maha Esa”. Hehehe
masih belum dirubah loh pak hakim. Tidak tahu kenapa. Mungkin Tuhan masih belum
buka Lowongan untuk mendampingiNya sebagai Wakil. Ups!!!... coba sebut pak
hakim, berapa Sila yang sudah anda setubuhi? Tik tok,,tik tok,tik tok,,.
Coba kita tengok kejiadian lain, juga tidak lepas dari perihal
penegakan hukum di negeri “Tanah Syurga Kolam Susu” ini.
Melihat keadaan yang seperti ini, sempat tercuat dalam benak saya
saat saya mencoba merenungi “Apakah PANCASILA terlalu suci untuk dijadikan
ideologi bangsa ini, sehingga banyak di antara kaum-kaum Bangsat-wan ingin
merenggut kesuciannya lalu menelantarkannya begitu saja layaknya kain lusuh
yang sudah tak layak pakai bahkan oleh gembel sekalipun?”.
Entahlah,,,, selera humor saya sudah habis. Pun saya juga sedikit
heran, nampaknya dari kalangan temen-temen mahasiswa atau pemuda-pemuda bangsa hanya sedikit sekali yang
perduli akan keadaan yang terjadi di negeri yang sama-sama kita pijaki ini.
Padahal dari dulu mahasiwa yang peling gigih memperjuangkan asas-asas/nilai
yang tercantum dalam pancasila. Kira-kira mereka perduli tidak ya? Atau
jangan-jangan mereka terlalu sibuk dan fokus pada tujuannya untuk mendapatkan “Hero/Legend”
terbaik dalam permainan “MOBILE”? Sehingga, jangankan pancasila, temen
ngopinya saja hanya disalami saat datang dan pamit pulang saja. Eh,
jangan-jangan mereka tidak dengar kalau saat ini tengah boomong-boomingnya
berita diacungkannya kartu kuning oleh ketua BEM-UI dan Fahri Hamzah yang juga ikut-ikutan
mengeluarkan kartu merah untuk periode pemerintahan Jokowi.
***
Sebelumnya mohon maaf saja, bukan lantaran saya tidak suka game lantas
saya mengkritik tentang para gamers. Hanya saja, saya mencoba untuk sedikit
membangunkan saudara-saudara saya yang sudah lama tertidur dengan mimpi-mimpi
indahnya bersama para Legend itu. Selagi saya masih sedikit terbangun, maka
hanya itu yang bisa saya lakukan. Karena bagaimanapun, saya tidak mungkin bisa
bertindak apapun, meskipun kalian ada di samping saya tapi dalam keadaan tenggelam
dalam tidur kalian yang begitu nyenyak. Pun juga bapak proklamator sudah
menitipkan amanat kepada kita para pemuda bangsa untuk tetap mengemban amanat
ini, agar tidak ada lagi pelacuran dimana-mana terhadap pancasila, dan, kita
sudah menyatakan kesanggupan kita dalam menjaga amanat itu.
***
Mas opo kowe
lali,
Karo sumpah janjimu
Biyen bakal
ngancani,
Urep tekan
matiku
*Via Vallen
Wallahu A’lam Bis-Showaf
Bangkalan, 05 Februari 2018
Komentar
Posting Komentar