PESAN DARI SELEMBAR KAIN KAFAN
Oleh: Rochman Ali Putra
“Kain kafan di pelopak matamu
Sebuah kain yang tak bersaku
Tidak membawa apapun
Dan kain yang tak bercorak
Karena kita kembali
TUHAN TAK MELIHAT WARNA”
Begitulah sajak yang di tergores dengan tetesan tinta hitam di atas selembaran kain kafan berwarna putiihh yang sengaja dipasang di depan Fakultas Hukum Universitas Trunojoyo Madura pada saat dilangsungkannya pemilihan gubernur dan wakil gubernur BEM pada Jum’at/15/12/2017 lalu. Kain kafan tersebut dipasang oleh seorang Mahasiswa yang akrab dipanggil “RIYAN” dan mengaku tengah menduduki Semester Lima di Fakultas Hukum-UTM.
Pemasangan kain kafan tersebut bukan lantaran tanpa tujuan. Memang pada awalnya Riyan mengaku hanya ingin tampil beda saja saat Tim Sukses dari salah satu pasangan calon kandidat menanyakan maksud dan tujuannya pada saat Riyan memasang lembaran kain kafan tersebut. Bahkan ia hanya memberi keterangan bahwa dengan pemesangan kain kafan bersajak tersebut tidak lain bahwa Riyan hanya ingin menunjukkan karya sajaknya di depan publik
Akan tetapi jawaban Riyan berbeda saat salah satu dari Anggota LPM-VOL ( Lembaga Pers Mahasiswa Voice Of Low) menanyakan maksud dan tujuannya dalam hal pemasangan kain kafan tersebut. Riyan mengaku bahwa dirinya telah bosan dengan caruk maruk yang terjadi di kampus tempatnya kuiah, khususnya Fakultas Hukum. Mahasiswa dengan perawakan tinggi 185 cm serta berkulit sawo mateng tersebut menerangkan bahwa dirinya sudah tidak tahan lagi melihat perpecahan yang disebabkan oleh perpolitikan dalam kampus yang dipelopori oleh tiga Organisasi Mahasiswa Ekstra Kampus yakni HMI, PMII dan GMNI. Riyan menambahkan bahwa dirinya tidak ingin lagi melihat kejadian tahun ini terulang lagi pada tahun kedepannya serta persautuan dari beberapa elemen mahasiswa dapat berlangsung, sehingga tiidak ada lagi saling hujat dan rasa ingin menjatuhkan antar bendera karena hal kekuasaan.
Harapan Riyan bahwa semua elemen mahasiswa kepdepannya benar-benar bersatu untuk memejukan kampus Trunojoyo , khususnya Fakultas Hukum. Bahkan ia dalam keterangannya menyatakan kerinduannya akan persatuan itu sendiri. “Kalau seperti ini terus, kapan majunya UTM ini pak. Saya rindu saat dimana seluruh lapisan elemen mahasiswa bersatu dan saya selalu mengimpikan bahwa persatuan itu terjadi di UTM. Kasian generasi kita selanjudnya” tukas Riyan saat diwawancarai oleh pihak VOL.
Namun di sisi lain ada beberapa dari mahasiswa yang menyayangkan kejadian tersebut. Mereka beranggapan bahwa hal tesebut tiidak seharusnya dilakukan apalagi saat momen pemilu raya berlangsung di Fakultas Hukum UTM. “Tidak usah muluk-muluk, itu sama saja mendirikan posko GOLPUT” terang seorang Mahasiswa Semester Tujuh Prodi HUKUM UTM yang akrab di sapa Yongki Pranata saat pihak VOL meminta pendapat tentang tragedi tersebut.
Meski demikiann tidak sedikit mahasiswa yang acuh dengan kejadian tersebut karena kejadian sepertii itu sudah pernah terjadi seminggu sebelum pemilihan Gubernur BEM Fakultas Hukum dilaksanakan dan juga bertepatan pada saat pemilihan Presiden Mahassiswa Universitas Trunojoyo Madura dengan Tema “POSKO GOLPUT”. “Saya sudah tak heran lagi karena hal ini hampir sama dengan kejadian minggu lalu pada saat pemilihan Presma UTM” terang Deaz Trengganu mahasiswa Fakutas Hukum semester tiga UTM yang juga berprofesi sebagai wartawan di JurnalMojo.com.


Komentar
Posting Komentar