JABAT DINGIN TANGAN SANG TERPILIH
Oleh: Rochman Ali Putra
Menjadi seorang nomer satu tentunya hal yang sangat patut untuk dibanggakan, walau tidak banyak yang menyokong kebanggaan itu, yaahhh minimal diri sendiri sudah lebih dari cukup.
Kiranya kita sama mengetahui bahwa mencari kepercayaan seseorang sangatlah tida mudah, terlebih lagi mendapatkan kepercayaan secara Cuma-Cuma. Permasalahanya bukan terletak pada untuk apa seseorang memberi kepercayaan tetrsebut, akan tetapi bagaimana orang yang telah menerima kepercayaan yang seseorang berikan tersebut bisa terlaksana sekurang-kurangnya mencapai 55% dari kata penuh.
Disini mungkin pembaca yang budiman pernah mengalami apa yang saya rasakan sebelumnya disaat kita sakit demam tinggi kita seakan melihat atau merasakan ada bayangan hitam yang awalnya kecil dan lama-kelamaan menjadi besar yang berjalan mendekati kita atau pernah merasakan seakan ada sesuatu yang besar akan datang menimpa raga kita yang sedang terbujur lemas yang diakibatkan oleh demam tersebut. Di saat itulah perasaan kita merasakan ketakutan yang luar biasa, akan tetapi tidak punya kekeuasaan untuk melarikan diri dari peristiwa tersebut.
Mungkin pembaca disini belum bisa menemukan apa dan dimana korelasi antara pemaparan saya di ataa dengan judul yang saya pampang di awal, akan tetapi jika pembaca bijak menelaah tentunya pembaca bisa menyimpulkan sendiri apa makna tersirat dalam pemaparan tulisan di atas.
Asap sebatang kandungan Tar dan Nikotin mulai menendang kuat kedalam rongga paru, serta mulai memasuki ubun-ubun dan lalu menjalar keseluruh tubuh mengikuti pembuluh darah, hingga sampai dipenghujung sepuluh jari tangan yang tengah menari di atas keyboard mengikuti irama hati yang bergejolak tinggi dengan ritme rima perlima. Tak lupa secangkir kopi hitam sebagai penawar rasa hambar dalam kosongnya kehidupan tak bertuan.
Disini saya sorot sudut pandang berbeda dari sebuah kejadian yang umumnya dirasakan oleh para pemenang pemilu dan berbicara persoalan pemilu tentunya ada dua kandidat atau lebih yang tengah mencalonkan diri sebagai objek dari pada pemilu itu sendiri. Kakrena jikalau hanya calon tunggal, ngapain diadakan pemilu? Wkwkwkw
Ok, PEMILU, ada calon kandidat dan ada Tim Sukses dari tiap kandidat dan itu sudah seperti hukum alam yang saling berkesinambungan antara satu sama yang lain dan dapat dirasionalkan. Ada terpilih dan ada yang belum terpilih. Sudah menjadi hal biasa saat kemenangan memihak kepada calon yang mereka usung terpilih sebagai pemenang suara untuk merayakan kemenangan mereka dalam bentuk apapun.
Hal dan suasana yang sangat jarang saya temui dalam hal tersebut ketika saya menjabat tangan para pemenang pesta demokrasi yaitu: Faisal Hidayatullah- Nurul Huda ( Gubernur terpilih FH UTM) dan Bung Anwar-Ria ( Gubernur Terpilih dari Fakultas Fisib UTM) yang terkesan lunglai terbuai suasana Uforia kemenangan. Namun alasan kedua kandidat terpilih pengemban amanat tersebut terlihat lunglai tidak lain karena mereka sadar akan tanggungjawab mereka yang teramat besar yang ia sendiri tidak yakin apakah ia akan bisa memenuhi tanggungjawab mereka atau malah sebaliknya, pun mereka juga menyadari akan ketidak berartian dirinya dibanding apa yang sedang tuhan limpahkan berupa “Amanah” yang tidak lain merupakan ujian terbesar atas dirinya.
Terlihat pada wajah mereka berdua tidak ada sedikitpun terpancar rasa keceriaan seperti apa yang dirasakan tim suksesnya dalam pertarungan politik
Tampuk kepemimpin harusnya bukanlah sesuatu yang dijadikan ajang perebutan untuk melampiaskan hasrat mereka setelah terpilih, akan tetapi justru mendapatkan tekanan moral karena pada kedua pundaknya terdapat nasib puluhan bahkan ratusan orang lain yang siap menunggu titah yang kemudian dijadikan dasar pijakan untuk rakyatnya melangkah dan para pemimpin akan dihadapkan dalam dua persoalan “kehancuran dan Kejayaan”.
Bangkalan,
Minggu 24 Desember 2017
02:00 WIB
Oleh: Rochman Ali Putra
Menjadi seorang nomer satu tentunya hal yang sangat patut untuk dibanggakan, walau tidak banyak yang menyokong kebanggaan itu, yaahhh minimal diri sendiri sudah lebih dari cukup.
Kiranya kita sama mengetahui bahwa mencari kepercayaan seseorang sangatlah tida mudah, terlebih lagi mendapatkan kepercayaan secara Cuma-Cuma. Permasalahanya bukan terletak pada untuk apa seseorang memberi kepercayaan tetrsebut, akan tetapi bagaimana orang yang telah menerima kepercayaan yang seseorang berikan tersebut bisa terlaksana sekurang-kurangnya mencapai 55% dari kata penuh.
Disini mungkin pembaca yang budiman pernah mengalami apa yang saya rasakan sebelumnya disaat kita sakit demam tinggi kita seakan melihat atau merasakan ada bayangan hitam yang awalnya kecil dan lama-kelamaan menjadi besar yang berjalan mendekati kita atau pernah merasakan seakan ada sesuatu yang besar akan datang menimpa raga kita yang sedang terbujur lemas yang diakibatkan oleh demam tersebut. Di saat itulah perasaan kita merasakan ketakutan yang luar biasa, akan tetapi tidak punya kekeuasaan untuk melarikan diri dari peristiwa tersebut.
Mungkin pembaca disini belum bisa menemukan apa dan dimana korelasi antara pemaparan saya di ataa dengan judul yang saya pampang di awal, akan tetapi jika pembaca bijak menelaah tentunya pembaca bisa menyimpulkan sendiri apa makna tersirat dalam pemaparan tulisan di atas.
Asap sebatang kandungan Tar dan Nikotin mulai menendang kuat kedalam rongga paru, serta mulai memasuki ubun-ubun dan lalu menjalar keseluruh tubuh mengikuti pembuluh darah, hingga sampai dipenghujung sepuluh jari tangan yang tengah menari di atas keyboard mengikuti irama hati yang bergejolak tinggi dengan ritme rima perlima. Tak lupa secangkir kopi hitam sebagai penawar rasa hambar dalam kosongnya kehidupan tak bertuan.
Disini saya sorot sudut pandang berbeda dari sebuah kejadian yang umumnya dirasakan oleh para pemenang pemilu dan berbicara persoalan pemilu tentunya ada dua kandidat atau lebih yang tengah mencalonkan diri sebagai objek dari pada pemilu itu sendiri. Kakrena jikalau hanya calon tunggal, ngapain diadakan pemilu? Wkwkwkw
Ok, PEMILU, ada calon kandidat dan ada Tim Sukses dari tiap kandidat dan itu sudah seperti hukum alam yang saling berkesinambungan antara satu sama yang lain dan dapat dirasionalkan. Ada terpilih dan ada yang belum terpilih. Sudah menjadi hal biasa saat kemenangan memihak kepada calon yang mereka usung terpilih sebagai pemenang suara untuk merayakan kemenangan mereka dalam bentuk apapun.
Hal dan suasana yang sangat jarang saya temui dalam hal tersebut ketika saya menjabat tangan para pemenang pesta demokrasi yaitu: Faisal Hidayatullah- Nurul Huda ( Gubernur terpilih FH UTM) dan Bung Anwar-Ria ( Gubernur Terpilih dari Fakultas Fisib UTM) yang terkesan lunglai terbuai suasana Uforia kemenangan. Namun alasan kedua kandidat terpilih pengemban amanat tersebut terlihat lunglai tidak lain karena mereka sadar akan tanggungjawab mereka yang teramat besar yang ia sendiri tidak yakin apakah ia akan bisa memenuhi tanggungjawab mereka atau malah sebaliknya, pun mereka juga menyadari akan ketidak berartian dirinya dibanding apa yang sedang tuhan limpahkan berupa “Amanah” yang tidak lain merupakan ujian terbesar atas dirinya.
Terlihat pada wajah mereka berdua tidak ada sedikitpun terpancar rasa keceriaan seperti apa yang dirasakan tim suksesnya dalam pertarungan politik
Tampuk kepemimpin harusnya bukanlah sesuatu yang dijadikan ajang perebutan untuk melampiaskan hasrat mereka setelah terpilih, akan tetapi justru mendapatkan tekanan moral karena pada kedua pundaknya terdapat nasib puluhan bahkan ratusan orang lain yang siap menunggu titah yang kemudian dijadikan dasar pijakan untuk rakyatnya melangkah dan para pemimpin akan dihadapkan dalam dua persoalan “kehancuran dan Kejayaan”.
Bangkalan,
Minggu 24 Desember 2017
02:00 WIB

Komentar
Posting Komentar